Perilaku berpose selfie dan mengabadikannya di smartphone pernah dianggap sebuah sebuah kelainan bernama selfitis, tapi klaim yang disebut berasal dari American Psychiatric Association itu terbukti hoax alias tidak benar. Tapi, diagnosa itu membuat sekelompok peneliti dari Notthingham Trent University dan Thiagarajar School of Management di India tergelitik untuk membuktikannya.

Mereka kemudian melakukan penelitian mendalam yang melibatkan 225 mahasiswa yang kuliah di kedua kampur tersebut. Setelah serangkaian tes, para peneliti menyimpulkan bahwa kelainan mental selfitis memang benar adanya.

“Kami nampaknya bisa mengkonfirmasikan keberadaan (selfitis) dan telah membuat ‘Skala Perilaku Selfitis’ pertama di dunia untuk mengevaluasi kondisi subyek,” jelas Dr. Mark Griffiths dari Departement Psikologi Nottingham Trent University.

Selfie berbahaya

Hasil penelitian yang telah diterbitkan di International Journal of Mental Health and Addiction itu mengelompokkan selfitis dalam tiga tingkatan tergantung seberapa parah gejalanya. Tingkatan yang pertama disebut dengan borderline selfitis dengan gejala perilaku selfie tiga kali dalam sehari tetapi tanpa mengunggahnya ke jejaring sosial.

Tingkatan yang kedua disebut selfitis akut, ditandai dengan tiga kali selfie dan mengunggahnya ke internet. Dan terakhir disebut dengan selfitit kronis yang ditandai dengan perilaku selfie sepanjang waktu atau lebih dari enam kali dalam sehari.

Dalam proses penelitiannya, koresponden mendapatkan 20 pertanyaan yang harus dijawab dengan setuju dan tidak setuju. 34% dari 225 koresponden dikelompokkan dalam tingkatan borderline selfitits, 40,5% dengan selfitis akut dan sisanya, 25,5% di tingkatan selfitis kronis. Anhnya, responden berjenis kelamin pria justru cenderung lebih rawan akan selfitis dibandingkan perempuan, yaitu 57,5 persen berbanding 42, persen.

Meskipun dilakukan oleh sekelompok peneliti dari unersitas ternama, namun sejumlah peneliti lain menentang hasil ini dan menganggap tidak ada kelainan pada orang yang hanya gemar memotret diri sendiri.

via Telegraph.co.uk
WN

Artikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.

Menghabiskan banyak waktu di sekolah dan rumah, penuh dedikasi di dunia pendidikan tapi mulai belajar jadi pengusaha dan penulis.